Jumat, 29 April 2011

 
 

Orientasi Pembangunan Belum Optimal ke Laut

Sangat disayangkan, Indonesia yang sejak zaman Majapahit dikenal sebagai negara bahari, dalam proses pembangunannya masih ditemui ketimpangan yang amat kentara antara pembangunan daratan dengan pembangunan kelautan. Pemikiran ini ke depan harus dirubah, karena potensi kakayaan laut jauh lebih besar.
Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Prof. Dr. Rizald Max Rompas saat membuka Seminar Persepsi Politisi terhadap Sektor Kelautan sebagai Mainstream Pembangunan Nasional di Hotel Jayakarta, Jakarta, belum lama ini mengungkap bahwa politisi memiliki peran penting dalam mewarnai pembangunan di suatu negara dan tentu dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah (lembaga eksekutif).
Indonesia memiliki kekayaan dan potensi berlimpah di laut, tetapi sampai saat ini kelautan belum menjadi mainstream pembangunan nasional. Hal ini disebabkan paradigma pembangunan nasional secara implementasi masih berorientasi ke daratan (continental oriented), tidak berorientasi archipelagic state.
Kelautan terdiri dari berbagai sektor yang dapat dikembangkan untuk memajukan dan memakmurkan bangsa Indonesia, yaitu: perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, serta pertambangan dan energy.
Dapat juga untuk pariwisata bahari, angkutan laut, jasa perdagangan, industri maritime, pulau-pulau kecil, sumberdaya non-konvensional dan bangunan kelautan (konstruksi dan rekayasa). Benda berharga dan warisan budaya (cultural heritage), jasa lingkungan, konservasi dan biodiversitas, juga termasuk sumberdaya kelautan.
Berdasarkan perhitungan berbagai lembaga dan para pakar, kelautan memiliki potensi ekonomi sebesar US$ 82 milyar per tahun apabila dikelola secara optimal. Prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga dalam satu tahun meliputi: perikanan senilai US $ 31.935.651.400, wilayah pesisir lestari total US$ 56 milyar, bioteknologi laut total US$ 40 milyar, wisata bahari US$ 2 tryliun, minyak bumi sebesar US$ 6,64 milyar, dan transportasi laut sebesar US$ 20 milyar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar